Mantanku, Sahabat Terbaikku

Mantanku, Sahabat Terbaikku
08:16 February, 15, 2017 . by siti salamah

Terlalu indah dilupakan, terlalu sedih dikenangkan. Begitulah kira-kira gambaran tentang mantan. Apalagi kalau ternyata mantan itu adalah sahabat kita. Kata orang Jawa, witing tresna jalaran saka kulina, cinta bermula karena terbiasa. Ya, terbiasa berinteraksi dengan teman lawan jenis apalagi sampai curhat bisa membuahkan perasaan lain di antara dua sahabat. Akhirnya tak jarang persahabatan berubah menjadi cinta.

Jika hubungan kalian bertahan lama bahkan sampai ke pelaminan, tentu akan sangat indah. Tak ada banyak kendala dalam beradaptasi karena sebelumnya telah menjadi sahabat. Sebagai sahabat tentu kalian telah saling tahu kelebihan dan kekurangan masing-masing. Kamu tahu ukuran bajunya, ukuran sepatunya, warna kesukaannya, tempat nongkrong favoritnya, reaksinya saat menghadapi masalah, kemarahannya, kebiasaan buruknya, cara makannya, bahkan kamu hafal banget bau keringatnya. Hehe...

Hubungan cinta yang bermula dari persahabatan juga lebih jujur daripada langsung menjadi pacar. Di depan sahabat kamu tak perlu segan mengungkapkan semua uneg-uneg yang nggak mengenakkan hati. Di depan sahabat kamu tak perlu berpura-pura. Semuanya kamu tampilkan secara natural, asli tak dibuat-buat.

Namun, perjalanan cinta yang bermula dari persahabatan seringkali berakhir di tengah jalan karena beberapa sebab. Nah, di sinilah kedewasaan kalian benar-benar diuji. Dari temen menjadi demen lalu menjadi mantan. Dia yang dulu menjadi sahabat yang nyaman buat curhat, pacar yang romantis dan penuh pengertian, kini untuk menyapa pun terasa enggan. Serasa ada tembok raksasa China yang memisahkan kalian. Ada ego yang melangit jika harus menyapa duluan gengsi dong. Dikira ngajak balikan lagi karena nggak laku-laku atau belum bisa move on.

Haruskah kehancuran bangunan cinta itu juga meruntuhkan istana persahabatan yang telah lebih dahulu dibangun? Halo Guys, berpikirlah lebih panjang! Tidak sayangkah jika persahabatan ikut berakhir gara-gara cinta putus di tengah jalan? Bolehlah ada mantan pacar tapi tak ada mantan sahabat. Bukankah kalian dulu bertemu mulanya sebagai sahabat? Maka, kembalikan hubungan kalian seperti sedia kala, sebagai sahabat. Boleh jadi dia bukan jodoh terbaikmu tapi bukankah dia telah membuktikan mampu menjadi sahabat terbaikmu? Tak ada rotan akar pun jadi, tak bisa menjadi pacar sahabat pun jadi.

Sekali lagi, belajarlah berpikir dewasa dengan mampu memilah dan memilih hubunganmu dengan dia sebagai sahabat dan sebagai mantan pacar. Jangan sampai mencampuradukkan sosoknya sebagai mantan pacar dengan sosoknya sebagai sahabat terbaik. Sebagai mantan pacar, bebaskan dirimu dari sakit hati dan dari cintanya yang tak pasti. Berikan kesempatan pada dirimu sendiri untuk menemukan kebahagiaan lain yang menanti. Hormati dan hargai mantanmu untuk menemukan sosok baru yang bisa jadi akan memperkaya hubungan kalian sebagai sahabat.

Dengan besar hati, katakan padanya, “Terima kasih kau telah mengakhiri hubungan cinta kita. Dengan begitu kau memberiku kesempatan untuk menemukan sosok yang lebih baik dari dirimu. Dan aku akan sangat berterima kasih jika seandainya kau masih mau mempertahankan persahabatan kita. Dulu sebagai kekasihku kau telah menorehkan luka, tapi sebagai sahabat, kaulah sahabat terbaikku.”

Bisakah, Guys? Jika bisa, itu tandanya kamu dan mantanmu – yang sekaligus sahabat terbaikmu-sudah dewasa dan matang.

 

*) Siti Salamah, seorang guru di SD Al Islam 3 Gebang yang punya hobi menulis. Tulisannya berupa cerpen, resensi, dan artikel telah tersebar di berbagai media seperti Solopos, Malang Pos, Koran Jakarta, Koran Pantura, Koran Muria, Koran Madura, Rakyat Sultra, majalah Hadila dan www.floressastra.com. Bisa lebih dikenal lewat FB Siti Salamah (Salma Madani).

 

 

 

 

Anda harus daftar/login Terlebih dahulu untuk memberikan komentar disini